Rabu, 04 Februari 2015

CINTA UNTUK AL



Al memeluk Byanka, kedua tangannya menguasai tubuh wanita berparas ayu itu, saat hendak mengecup bibir tipis Byanka, Al tersadar dan langsung mengurungkan niatnya . Al tersenyum, sebuah senyum diatas sisa air mata yang membasahi pipinya. Byanka mencium kening Al, dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Byanka,” memanggil Al, pelan.

Byanka menjawab dengan suaranya yang khas, lemah lembut dan penuh senyum, “Iya, Ada apa Al?”

“Terima kasih ya,”

“Kamu udah sepuluh kali bilang terima kasih sama aku,”

“Aku merasa bersalah,”

“Bersalah atas apa?”

Al memalingkan wajahnya, ia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan Byanka saat ini. Dimata Al, Byanka adalah sosok wanita yang hebat dengan segala yang ia punya sekarang.

“Al…?” Byanka menarik lembut pundak Al, “Jangan bilang karena aku duduk di kursi roda ini, dan selamanya kamu menyalahkan diri kamu sendiri. Aku nggak mau dengar lagi Al,”

“Tapi…”

“Aku,” Byanka memeluk Al, ia sandarkan kepalanya di pundak Al,“Sayang kamu, dengan segala keadaan kamu saat ini,” Byanka meneteskan air mata,terasa sesak di dada, mengingat Al sudah memiliki Garnetta.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menahan segala gejolak rasa cinta yang ada antara Byanka dengan Aldiano. Sejak mereka duduk dibangku kuliah, Byanka sudah menyimpan rasa kagum pada Al, namun sayang mereka tidak berjodoh hingga ke pelaminan. Hari demi hari di lalui Byanka dengan penuh harap, kepedihan itupun tak terelakan, undangan pernikahan sampai juga ketangannya.

Lima tahun itupun telah berlalu, kini hadir lagi seorang gadis yang dicintai Al, rasanya semua cinta kasih dan sayang Al hanya untuk dia, dan untuk kali kedua, sepertinya Byanka benar-benar tidak bisa memaksakan hasratnya untuk memiliki Al sepenuhnya.

“Apakah keberadaan Garnetta bisa membuatmu bahagia?”

Byanka mengangguk, tanpa sepatah katapun, hatinya luluh lantah. Betapa bahagianya saat mendengar Al mengatakan, “Aku nggak bisa melihatkamu hidup dalam kepedihan hati yang dalam lagi Yan,”

“Kamu bisa menerima aku dalam kondisi aku saat ini?” tanya Byanka.

Al mengangguk, “Bahkan kamu bisa berjalan lagi seperti dulu,”

“Aku bahagia banget Al, sekalipun kamu melakukan ini hanya untuk menebus rasa bersalah kamu, tolong jangan tunjukkan itu, biarkan aku menikmati rasa bahagiaku ini,”

Byanka tidak bisa berkata-kata lagi saat bibir Al menutup bibir mungilnya, tak lama terdengar suara tawa dan tetesan air mata dari Byanka. Al mengangkat tubuh Byanka dari kursi rodanya.

“Al, aku takut. Tolong turunkan aku,”

“Buat apa ada aku kalau kamu masih merasa takut?”

Kebahagiaan itu terpancar dari mata Byanka. Esok harinya Al memberanikan diri melamar Byanka pada orang tuanya di Bandung. Sedangkan Byanka tetap berada di rumah tantenya di Jakarta.

“Jadi maksud kedatangan Nak Al kesini adalah untuk meminang Byanka?” tanya ayah Byanka.

“Benar Yah, kemarin saya sudah mengatakan hal ini pada Byanka,”

“Kalau Ayah tidak bisa berbuat banyak, jika memang Byanka bisa hidup bahagia bersama Nak Al.”

Teh Desy datang dan langsung memotong pembicaraan bapaknya dengan Al, “Tapi Ayah, lima tahun lalu Al telah mencampakkan Byanka begitu saja, sok dipikirkeun deui atuh yah.”

“Yang lalu biarlah jadi masa lalu Desy, yang penting adik kamu bisa hidup bahagia,” Ayah menasehati Desy yang mulai emosi.

“Kamu juga Al, di mana atuh perasaan maneh teh…? Dulu saat Byanka suka sama kamu, kamu tega ninggalin dia dan menikahi Renata. Sekarang, istrimu sudah meninggal setelah melahirkan anakmu, terus kamu mau menikahi adik saya?” Teh Desy benar-benar emosi.

Ulah kitu Desy, stop ngabongkar luka lama, teu baik eta mah.”

“Kamu ingat, saat Byanka tulus menolong seorang wanita yang hampir ditabrak mobil? Itu ternyata isteri kamu kan? Karena dia lah sekarang adik saya duduk di kursi roda,”

“Stop Desy, ulah titeruskeun deuiulah neng geulisteu baik marah-marah sama tamu,” ayah batuk dan memegang dadanya, “Sekarang kamu masuk saja ke kamarmu, biar ini urusam ayah dan Al…”

Teh Desy menangis, “Ayah masih ingat kan? Ummi jatuh sakit saat melihat Byanka duduk di kursi roda dan kepalanya masih diperban? Sampai Ummi menghembuskan nafas terakhir ummi masih nggak percaya Byanka kehilangan satu kakinya yah,” teh Desy mencoba menahan tangisnya yang hendak meledak, ”Dan kamu Al, tega pisan mane  teh, bener-bener teu boga perasaan,” Teh Desy berlalu meninggalkan Ayah dan Al.

Malamnya Al kembali ke Jakarta, mengantongi restu dari Ayah Byanka, tapi tidak dengan Teh Desy yang masih saja mengungkit kisah lalu. Semua kembali lagi pada Byanka. Al bersujud di kaki tunggal Byanka, memohon maaf atas semua yang menyebabkan dirinya menjadi cacat. Melihat Al bersikap seperti itu, tangisan dan kesedihan Byanka melebihi apa yang Al rasakan.

“Aku mohon jangan lakukan ini,” Byanka mencoba mengangkat tubuh Al, “Aku bukan siapa-siapa Al, kamu nggak boleh bersujud di kaki aku. Al bangun, aku mohon dengan sangat  jangan bersujud untuk aku Al,”

Al semakin tersungkur, Byanka tidak peduli walau harus jatuh dari kursi rodanya dan memeluk Al erat, “Aku,” Byanka mencoba menahan tangisnya, dan berbisik di telinga Al, “Mencintaimu, aku benar-benar mencintai kamu Al, yang menjalani cinta ini cuma aku, hati dan perasaan aku yang tau betapa bahagianya aku bisa jadi pendamping hidup kamu, dan kita harus bisa membuktikan itu.”

“Byanka,,,, maafkan aku…”

*Sok dipikirkeun deui atuh ayah ( ayo dipikir2 lagi )

*Di mana atuh perasaan maneh teh ( di mana sih perasaan kamu? )

*Ulah kitu Desy, stop ngabongkar luka lama, teu baik eta mah (jangan begitu Desy, berhenti membongkar luka 
lama, ngga baik itu mah )

*Ulah ti teruskeun deuiulah neng geulisteu baik ( Jangan di teruskan lagi,jangan neng cantik, nggak baik )

*Tega pisan maneh teh,bener-bener teu boga perasaan ( Tega banget kamu tuh, bener2 ngga punya perasaan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar