Rabu, 11 Februari 2015

DANIA


Suasana di kantin siang itu cukup ramai, meja dan kursi sudah penuh  karyawan kantor. Sendok dan garpu juga tidak kalah ramai, beradu dalam sebuah piring berukuran sedang. Namun sepertinya suara bising itu tidak terdengar di telinga Tyo Sandoro, seorang Manager disalah satu perusahaan yang letak gedungnya tidak jauh dari kantin itu.
           Pria berkulit putih dan hidung yang mancung itu hanya meneguk segelas kopi hitam dan roti panggang yang belum ia sentuh. Matanya terpaku pada sebuah vas bunga cantik yang berada di sudut kantin.

Alun sahabat Tyo, datang membuyarkan lamunan Tyo siang itu, “Sorry bro, gue telat, tadi gue ada meeting dadakan di kantor.”

“Heemm, oke!! Nggak masalah, makin sibuk aja u sekarang??”

“Lagi banyak job, hahah. Oia, gimana rencana u sama Dania? Kapan  kalian married…?”

“Dania…” ucap Tyo pelan.

“Iya Dania, emang u punya calon yang lain? Mafia juga u haha.”

“Dania tiba-tiba ilang, lun.”

“Maksud u??? Hahhhh kebanyakan nonton kartun u. Hahah…”

Tyo menghela nafas, sesekali melirik kesekitar kantin, “Cewek u tuh lun, kayaknya doi mau nyamperin u tuh.”

Cewek cantik bertubuh langsing dan tinggi semampai itu menghampiri Alun yang sedang asik makan roti panggang milik Tyo.

“Sayang, BBM aku nggak dibales sih???”

“Emmm, lowbatt sayang,” alun cari alasan jitu.

“Kamu udah makan siang belum? Makan sama aku yuk,” ajak Melody.

Tyo memalingkan wajahnya, ia tau Alun akan menolak ajakan Melody.
Alun mencoba cari alasan lain, “Sebenarnya aku ada perlu sama Tyo, tapi kalo kamu mau gabung makan disini, ya nggak apa-apa.”

“Oh begitu ya, aku sama ….”

“Tiara….” Sapa Gusti dengan nada menggoda, Gusti adalah mantan Tiara, dunia Emang  kecil, Jadi jangan heran kalo di satu kawasan bisa  punya banyak mantan.

“Sama gusti???” Tanya  Alun.

“Bu.. bu.. bukan, aku makan siang sama Bela aja, ya udah bye sayang, Tyo gue pamit ya…” Melody segera meninggalkan Alun dan Tyo, Melody seperti menyimpan sebuah rahasia dari Alun.

“u cemburu sama mantannya Melody?

“Gue cemburu??? Biasa aja, oiya terus gimana tadi, menghilang kemana Dania???”

“Itu dia yang bikin gue  bingung, keluarganya pindah rumah, entah kemana. Dania juga nggak ada di tempat kost nya.”

“Terakhir ketemu kapan Yo? Sebelumnya kalian ada masalah?”

Tyo menggeleng pelan, “Terakhir Dania lihat gue ngobrol sama Rassya.”

“What….? Rassya?? Cewek yang ngaku hamil sama u itu?”

“Itu cuma gossip Lun, gue nggak pernah nyentuh Rassya sedikitpun, cuma gossip itu udah sampe ke telinga Dania.”

“Appeesss…!!!” seru Alun.

“Banget…” balas Tyo pelan, sambil meneguk kopi hitamnya buat yang terakhir.

“So, apa yang mau u lakuin  sekarang?”

“Gue mau sumpel mulutnya Gusti, biar nggak godain Tiara lagi, hahaha.”

“Aaahhh sial u, gue serius nih Yo,” Tyo dan  Alun kembali ke kantor masing-masing, namun beban pikiran dan moril lainnya belum hilang 100% dalam hati Tyo, ia masih mempertanyakan kepergian Dania yang sangat misterius itu.

           Sudah hampir satu tahun Dania pergi, Tyo belum mendapat wanita pengganti Dania dihatinya. Satu persatu teman SMP, SMA, kuliah dan teman kantor mengundangnya ke resepsi pernikahan mereka. Di sebuah pesta pernikahan Ryan, teman sekantor Tyo, Alun datang tanpa ditemani Melody.

“Sendirian aja bro?? Melody mana?” Tanya Tyo, seraya memberikan segelas minuman pada Alun.

“Melody ada acara keluarga, dia cuma kabarin itu lewat BBM. Liat Yo, tamu yang datang cantik-cantik semua. Masa sih nggak ada satupun yang bisa gantiin Dania???”

“Susah…!!!”

“Susah apanya?? Sok setia u. Hahah…”

“Maksud gue susah buat dapetin cewek-cewek cantik itu… hahah.”

“yahh ,, bisa aja u,”

“Oiya  u kapan nyusul Ryan? Kasian tuh Melody udah lama minta u resmiin, hahaha.”

“u pikir dia serius sama gue?” Tanya Alun.

“Maksud U? Melody selingkuh atau cuma manfaatin u ? apa gimana nih? Gue lihat doi cinta berat sama u lun.”

“Gue nggak mau bahas itu Yo. Serius u nggak mau cari pengganti Dania? Nyesel loh,” ledek alun dengan senyumnya yang khas.

“Apa jangan-jangan u yang selingkuh duluan? Buktinya sekarang mata u jajan mulu bro…?”

“You know me, lah…??? kapan gue pernah selingkuh, jangankan selingkuh ngelirik pacar temen sendiri aja gue nggak pernah.”

“Maksud u bro…???” Tyo meraih ponselnya karena terdengar dering SMS masuk. Tyo nggak ngerti maksud dari sms tersebut dan langsung memasukkan ponselnya ke kantong jasnya.

“Lupain aja, obrolan kita udah mulai nggak asik nih,” Mata Alun mengintai beberapa tamu wanita yang cantiknya luar biasa, namun matanya terhenti pada seorang wanita berjilbab, “Shuut Yo, u liat deh cewek yang lagi ngobrol sama adiknya Ryan. Itu tuh disamping panggung MC .”

“Kenapa lagi Lun?? Masih aja jajan mata u, Melody kan almost perfect.

“Tapi dia beda Yo, nggak kalah cantik sama Melody, lebih pure.”

“Susah deh mafia…, tapi kayaknya gue kenal deh sama dia, wajahnya nggak asing banget lun, tapi gue lupa siapa namanya.”

“Samperin aja Yo, bisa lah kenalin ke gue.”

“Bisa , tenang aja, kenal aja ya nggak lebih,” Tyo dan alun menghampiri wanita berjilbab merah tersebut, namun ia segera pergi ketika melihat Tyo datang.”

“Sorry boss, cewek yang tadi ngobrol sama u itu siapa ya namanya??”

“Yang pake jilbab merah? Dia Zee, mantan abang gue, yang sekarang lagi jadi raja sehari…”

“Bisa aja u boss, oke deh thanks ya,” Tyo langsung mengejar Zee, alun mengikuti di belakang Tyo. Tyo mengejar Zee namun ia terus menghindar.

Akhirnya dapet juga, tangan Tyo berhasil meraih tangan Zee, “U  temannya Dania kan?”

“Bukan…!!! Lepasin tangan gue.”

“Nggak, gue inget banget, Dania datang jenguk gue di rumah sakit sama U kan??? Sekarang U pasti tau dimana Dania.”

“Gue nggak tau, sekarang lepasin tangan gue atau gue bakal teriak,” ancam Zee. Alun nggak bisa diam aja melihat kejadian ini.

“u nggak perlu teriak atau berulah yang aneh-aneh, teman gue ini bukan maling, copet atau bahkan penjahat yang mau perkosa u, u cukup bilang dimana Dania,” Alun meradang, gelagat playboy nya tiba-tiba lepas dari dirinya,

“Lepasin tangan dia Yo.”

“Zee, U tau udah satu tahun Dania ninggalin gue tanpa sepatah kata pun, u ngerti perasaan gue gimana?”

“Gue nggak mau berurusan lagi sama u Yo, mulai sekarang dan sampai seterusnya jangan ganggu Dania lagi, paham u???”

“Nggak, gue nggak bisa diam gitu aja tanpa gue tau alasannya, please kasih tau gue, kenapa sih kayaknya u benci banget sama gue? Salah gue apa sih Zee???”

           Zee menatap Tyo penuh benci, ia muak dan ingin segera pergi dari hadapan Tyo dan Alun, “Malam ini juga u ikut gue, sendiri aja nggak usah ajak teman u ini. Gue nggak suka ngeliat dia.”

           Tyo pergi bersama Zee, terpaksa tanpa Alun, sahabat Tyo ini cukup mengerti, asalkan Tyo bisa mendapatkan apa yang dia mau, bertemu dengan Dania.

“Kapan terakhir U ketemu Dania???” Tanya Tyo.

“Seminggu yang lalu, jujur ya gue kecewa banget kenapa semua ini harus terjadi, nggak adil banget buat Dania,” ujar Zee, lirih.

“Nggak adil juga buat gue, dia menghilang dua bulan sebelum acara pernikahan kita, untung aja gue belum pesan gedung dan lainnya.”

            Mobil Zee berhenti disebuah rumah berdesain minimalis, ia meninggalkan Tyo duduk di taman lalu kembali dengan membawa sebuah notebook mungil.

“Mana Dania???”

“Dania nggak ada disini.”

“Terus maksud u apa bawa gue kesini???”

“Sorry banget, gue nggak bisa bawa u ketemu Dania.”

“u licik Zee, apa maksud u dengan semua ini???”

“Jangan bilang gue licik, apa yang terjadi dengan hubungan kalian bukan karna gue…!!! Jaga mulut u ya.”

“Lalu…? u udah buat gue tampak bego di depan u, bilang sama gue dimana Dania?” Tyo teriak-teriak disekeliling
bahkan masuk kedalam rumah Zee. Dan kembali ke taman dengan tangan hampa.

“Percuma, Dania nggak akan hadir dihadapan u lagi, lebih baik loe liat video ini…, disini u bisa liat Dania lagi dioperasi, ia buta karena kecelakaan sepulang dari rumah u.”

“Kapan Dania kerumah gue??”

“Tepatnya saat Rassya ada dirumah u juga, Dania datang buat minta penjelasan tentang berita kehamilan Rassya, tapi Rassya udah lebih dulu ada dirumah u, bahkan saat itu dia lagi peluk u kan? Dania kecelakaan tertabrak mobil dan matanya mengalami kebutaan.

”Sampai sekarang?”

“Nggak, cuma enam bulan,” Zee menghapus air matanya.

“Jangan buang-buang waktu lagi, gue mau minta maaf sama Dania, anter gue ketemu dia please,” Tyo menangis melihat
video itu.

“Besok pagi gue baru bisa anter u, lebih baik u pulang sekarang.” Demi bertemu dengan Dania, Tyo menuruti permintaan Zee, karena saat ini hanya Zee yang tau dimana Dania. Esok paginya Zee menemani Tyo bertemu dengan keluarga Dania, ibu dan adiknya menangis menceritakan segala penderitaan yang dialami Dania, Tyo benar-benar terpukul ia merasa Ngak berguna karena nggak bisa menemani Dania melewati penderitaannya.

“Sekarang Dania udah tenang, nggak ada lagi yang ganggu dia, mencemooh, bahkan menghina dan menghalangi kebahagiaannya.”

“Maksud ibu apa? Saya nggak ngerti bu, saya boleh bertemu Dania sekarang?”

“Dania ada di taman belakang, mari ikut saya,” ajak adiknya Dania, Tyo nurut aja, Zee memeluk dan menenangkan ibu Dania.

           Tyo terkejut hebat dan tersungkur lemah, ia menangis sekencang-kencangnya dihadapan papan nisan bertuliskan Dania Citra, hatinya benar-benar hancur, rasanya nggak ada matahari lagi dalam kehidupannya.

           Zee mendekat ke Tyo, “Cewek yang namanya Melody udah lama ngincer u, dia nggak suka dengar kabar kalian mau menikah, Melody yang menyuruh Rassya mengaku kalo u yang hamilin dia, dengan imbalan uang. Dalam kebutaannya Dania ingin mencoba mandiri, namun lagi-lagi ia harus mengalami kecelakaan di rumahnya sendiri,”

          Setelah Zee menceritakan segalanya satu minggu Tyo berduka dan nggak masuk kerja, semangatnya hilang, lenyap terbawa kerinduan dan penyesalan yang dalam untuk Dania, “Kenapa Melody tega ngelakuin semua ini, ngancurin gue, Alun dan Dania,” Tyo teriak kencang, “Melody Balikin Dania sama Gue lagi…!!!” Tyo membanting ponselnya saat membaca kembali SMS dari Melody,“Ryan udah nikah, besok kita nikah ya Yo, gue nggak bisa lama-lama menahan Perasaan ini. Gue ngga pernah cinta sama Alun.”

            Malamnya sepulang kerja Alun datang menjenguk Tyo yang sedang dilemma dan galau, “Apa kabar bro? sehat??? Gue turut berduka ya, gue yakin u bisa lewatin ini semua Sob.”

“Melody mana? Sendiri aja?”

“Huufftt,, udah nggak bisa dipertahanin lagi bro,”

“Putus…???”

“Yups, dia yang minta, emang gue lagi nunggu biar dia yang putusin gue. Kapan nih masuk kerja lagi?”

“Minggu depan aja lah, itung-itung ambil cuti, jujur  sama gue, kalian putus karna apa? Karena siapa?”

“Apaan sih u, emang udah nggak cocok aja bro, aneh dah pertanyaan u.”

“Bukan karena gue kan? Sorry bro, gue nggak tau sebelumnya, dan gue nggak pernah ada maksud atau niat buat rebut perhatian dari Melody.”

“Heemmm santai aja bro, nggak masalah buat gue, kecuali kalo teman gue duluan yang ngembat cewek gue. Haha,, tenang aja gue nggak apa-apa kok, cewek kaya gitu nggak mungkin gue pertahanin. Oia kemarin u belum selesai cerita bro, jadi siapa yang udah tega fitnah u sampai Dania akhirnya kecelakaan dan jadi buta and than meninggal? Biar lengkap aja cerita sedih tentang u and Dania.”

“Gue nggak pernah nyangka Melody tega Ngelakuin itu semua…”

“What…??? Jadi…, oh God. Melody yang fitnah u bro…???”Wah ...Gilaa..Gila...

“Melody emang sering banget SMS or BBM gue, tapi nggak gue gubris sama sekali, gue tau Melody cewek u lun.”

           Damn…!!! Alun ikut terpukul dan mereka saling minta maaf, baik Alun dan Tyo nggak ada yang menyangka dengan kejahatan Melody.

           Esok paginya Alun datang menemui Melody, sikap Melody yamg udah dingin terhadap Alun, “Aku baru tau, selama ini kamu selingkuhin hati kamu ke sahabat aku sendiri dan kamu tega udah fitnah Tyo sampai Dania Ninggalin Tyo untuk selama-lamanya.”

“Sebaiknya kamu pergi dari sini, karena apa yang kamu bilang tadi nggak akan membuat Tyo menerima cinta aku kan???”

“Tapi kamu…”

“Dania meninggal karena kecelakaan, bukan karena aku. Jangan pernah temui aku lagi, aku muak dengan semua ini,” Melody mengusir Alun, tanpa meminta maaf sedikitpun atas apa yang udah dia perbuat. Sekarang Alun benar-benar membenci Melody.

*SELESAI *

Rabu, 04 Februari 2015

CINTA UNTUK AL



Al memeluk Byanka, kedua tangannya menguasai tubuh wanita berparas ayu itu, saat hendak mengecup bibir tipis Byanka, Al tersadar dan langsung mengurungkan niatnya . Al tersenyum, sebuah senyum diatas sisa air mata yang membasahi pipinya. Byanka mencium kening Al, dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Byanka,” memanggil Al, pelan.

Byanka menjawab dengan suaranya yang khas, lemah lembut dan penuh senyum, “Iya, Ada apa Al?”

“Terima kasih ya,”

“Kamu udah sepuluh kali bilang terima kasih sama aku,”

“Aku merasa bersalah,”

“Bersalah atas apa?”

Al memalingkan wajahnya, ia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan Byanka saat ini. Dimata Al, Byanka adalah sosok wanita yang hebat dengan segala yang ia punya sekarang.

“Al…?” Byanka menarik lembut pundak Al, “Jangan bilang karena aku duduk di kursi roda ini, dan selamanya kamu menyalahkan diri kamu sendiri. Aku nggak mau dengar lagi Al,”

“Tapi…”

“Aku,” Byanka memeluk Al, ia sandarkan kepalanya di pundak Al,“Sayang kamu, dengan segala keadaan kamu saat ini,” Byanka meneteskan air mata,terasa sesak di dada, mengingat Al sudah memiliki Garnetta.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menahan segala gejolak rasa cinta yang ada antara Byanka dengan Aldiano. Sejak mereka duduk dibangku kuliah, Byanka sudah menyimpan rasa kagum pada Al, namun sayang mereka tidak berjodoh hingga ke pelaminan. Hari demi hari di lalui Byanka dengan penuh harap, kepedihan itupun tak terelakan, undangan pernikahan sampai juga ketangannya.

Lima tahun itupun telah berlalu, kini hadir lagi seorang gadis yang dicintai Al, rasanya semua cinta kasih dan sayang Al hanya untuk dia, dan untuk kali kedua, sepertinya Byanka benar-benar tidak bisa memaksakan hasratnya untuk memiliki Al sepenuhnya.

“Apakah keberadaan Garnetta bisa membuatmu bahagia?”

Byanka mengangguk, tanpa sepatah katapun, hatinya luluh lantah. Betapa bahagianya saat mendengar Al mengatakan, “Aku nggak bisa melihatkamu hidup dalam kepedihan hati yang dalam lagi Yan,”

“Kamu bisa menerima aku dalam kondisi aku saat ini?” tanya Byanka.

Al mengangguk, “Bahkan kamu bisa berjalan lagi seperti dulu,”

“Aku bahagia banget Al, sekalipun kamu melakukan ini hanya untuk menebus rasa bersalah kamu, tolong jangan tunjukkan itu, biarkan aku menikmati rasa bahagiaku ini,”

Byanka tidak bisa berkata-kata lagi saat bibir Al menutup bibir mungilnya, tak lama terdengar suara tawa dan tetesan air mata dari Byanka. Al mengangkat tubuh Byanka dari kursi rodanya.

“Al, aku takut. Tolong turunkan aku,”

“Buat apa ada aku kalau kamu masih merasa takut?”

Kebahagiaan itu terpancar dari mata Byanka. Esok harinya Al memberanikan diri melamar Byanka pada orang tuanya di Bandung. Sedangkan Byanka tetap berada di rumah tantenya di Jakarta.

“Jadi maksud kedatangan Nak Al kesini adalah untuk meminang Byanka?” tanya ayah Byanka.

“Benar Yah, kemarin saya sudah mengatakan hal ini pada Byanka,”

“Kalau Ayah tidak bisa berbuat banyak, jika memang Byanka bisa hidup bahagia bersama Nak Al.”

Teh Desy datang dan langsung memotong pembicaraan bapaknya dengan Al, “Tapi Ayah, lima tahun lalu Al telah mencampakkan Byanka begitu saja, sok dipikirkeun deui atuh yah.”

“Yang lalu biarlah jadi masa lalu Desy, yang penting adik kamu bisa hidup bahagia,” Ayah menasehati Desy yang mulai emosi.

“Kamu juga Al, di mana atuh perasaan maneh teh…? Dulu saat Byanka suka sama kamu, kamu tega ninggalin dia dan menikahi Renata. Sekarang, istrimu sudah meninggal setelah melahirkan anakmu, terus kamu mau menikahi adik saya?” Teh Desy benar-benar emosi.

Ulah kitu Desy, stop ngabongkar luka lama, teu baik eta mah.”

“Kamu ingat, saat Byanka tulus menolong seorang wanita yang hampir ditabrak mobil? Itu ternyata isteri kamu kan? Karena dia lah sekarang adik saya duduk di kursi roda,”

“Stop Desy, ulah titeruskeun deuiulah neng geulisteu baik marah-marah sama tamu,” ayah batuk dan memegang dadanya, “Sekarang kamu masuk saja ke kamarmu, biar ini urusam ayah dan Al…”

Teh Desy menangis, “Ayah masih ingat kan? Ummi jatuh sakit saat melihat Byanka duduk di kursi roda dan kepalanya masih diperban? Sampai Ummi menghembuskan nafas terakhir ummi masih nggak percaya Byanka kehilangan satu kakinya yah,” teh Desy mencoba menahan tangisnya yang hendak meledak, ”Dan kamu Al, tega pisan mane  teh, bener-bener teu boga perasaan,” Teh Desy berlalu meninggalkan Ayah dan Al.

Malamnya Al kembali ke Jakarta, mengantongi restu dari Ayah Byanka, tapi tidak dengan Teh Desy yang masih saja mengungkit kisah lalu. Semua kembali lagi pada Byanka. Al bersujud di kaki tunggal Byanka, memohon maaf atas semua yang menyebabkan dirinya menjadi cacat. Melihat Al bersikap seperti itu, tangisan dan kesedihan Byanka melebihi apa yang Al rasakan.

“Aku mohon jangan lakukan ini,” Byanka mencoba mengangkat tubuh Al, “Aku bukan siapa-siapa Al, kamu nggak boleh bersujud di kaki aku. Al bangun, aku mohon dengan sangat  jangan bersujud untuk aku Al,”

Al semakin tersungkur, Byanka tidak peduli walau harus jatuh dari kursi rodanya dan memeluk Al erat, “Aku,” Byanka mencoba menahan tangisnya, dan berbisik di telinga Al, “Mencintaimu, aku benar-benar mencintai kamu Al, yang menjalani cinta ini cuma aku, hati dan perasaan aku yang tau betapa bahagianya aku bisa jadi pendamping hidup kamu, dan kita harus bisa membuktikan itu.”

“Byanka,,,, maafkan aku…”

*Sok dipikirkeun deui atuh ayah ( ayo dipikir2 lagi )

*Di mana atuh perasaan maneh teh ( di mana sih perasaan kamu? )

*Ulah kitu Desy, stop ngabongkar luka lama, teu baik eta mah (jangan begitu Desy, berhenti membongkar luka 
lama, ngga baik itu mah )

*Ulah ti teruskeun deuiulah neng geulisteu baik ( Jangan di teruskan lagi,jangan neng cantik, nggak baik )

*Tega pisan maneh teh,bener-bener teu boga perasaan ( Tega banget kamu tuh, bener2 ngga punya perasaan)

3 pejantan tanggung


BREEGGHH… 
Ryan menaruh tas ranselnya di atas meja makan, hampir aja roti panggang dan segelas susu Ari jatuh. Ari melirik ke arah Cloud, namun pria yang sibuk dengan rambutnya yang sedikit blonde itu tetap Kalem, menatap layar HP, menunggu sang pujaan hati membalas pesan singkatnya.
“Phuufftt…” desah Ryan, tanpa berkata sepatahpun.
Ari melempar sedikit roti panggang, tepatnya bagian yang hangus ke wajah Ryan, “Kenapa sih loe? Muka pake ditekuk lima?”
“Biasa..” singkat banget jawabnya.
Cloud ikutan comment, “Heemm, paling abis di putusin sama mba sayur yang suka lewat depan rumah kita ini.”
“Kok loe tau Cloud?” jawab Ryan, cepat.
Ari senyam-senyum, “Serius loe jadian sama mba sayur itu? Trus sekarang diputusin??? Kasiaaannnn…!!!”
“Jangan panggil mba sayur dong, namanya kan mba Ratih,”
Cloud menepuk tangan Ari, “Guys, gue ngerti nih maksud si Ryan yang sebenarnya,” Cloud emang rada pinter dalam membaca situasi yang genting.
“Bagus deh, jadi gue nggak pusing sendirian,” Ryan lega.
“Emang ada apaan sih?” Ari bingung.
Cloud pasang wajah kaya orang pinter alias paranormal, “Feeling gue bilang sih, mba Ratih udah nggak mau ngutangin kita sayuran and  lainnya lagi, ya kan Yan..???”
Ryan mengangguk lemah, “Sebentar lagi juga Jeng Ana bakal nagih uang kontrakan,” mendengar ucapan Ryan, wajah Ari langsung pucet.
“Terus gimana dong nasib kita?” Tanya mereka kompak.

TOK… TOK… TOK…
Suara ketukan pintu, Cloud dan Ryan udah bisa nebak siapa yang datang, Ari langsung pamit ke toilet, Maklum Pejantan Tanggung yang satu ini, gampang mules lemes kalo denger atau ngadepin sesuatu yang genting alias bahaya tingkat tengah sampai dengan tinggi.
“Pasti Jeng Ana,” tebak Ryan. Cloud menarik tangan Ryan,
“Kita suit, siapa yang kalah, dia yang ngadepin Jeng Ana, gimana?”
Ryan nolak, “Ntar dulu, tunggu Ari. Enak aja dia nggak ikutan.”
“Akhhh,, kalo nunggu Ari, pintu kontrakan ini bisa di dobrak (buka dengan paksa) sama Jeng Ana. Loe tau sendiri si Ari kalo udah nongkrong di WC bisa sampe dua jam,”
“Padahal makannya roti plus susu mulu ya tiap hari?” Tanya Ryan nyeleneh.
“Dia sih mau makan enak atau nggak, tetep aja gak ngilangin kebiasaan mulesnya kalo lagi nervous,” balas Cloud.
Ryan dan Cloud pun suit, lagi dan lagi keberuntungan nggak berpihak pada Ryan, ia harus menghadapi Jeng Ana seorang diri. Ryan masih punya sisa mental setelah nggak sengaja bertemu mba Ratih sepulang kuliah tadi, dan sekarang harus berhadapan dengan Jeng Ana, si ibu pemilik kontrakan.
“Langsung aja ya, uang kontrakan bulan lalu dan bulan ini, mana???”
“Belum ada Jeng. Tapi secepatnya kami bayar, beneran deh Jeng,”
“Saya sudah nggak bisa percaya pada kalian, saya kasih waktu satu minggu untuk melunasi semuanya, oke?”
“Oke Jeng,”
“Janji..???”
“Janji Jeng..”
“Nggak meleset ya???”
“Nggak meleset Jeng,”
Ryan kembali ke ruang makan, dan disana sudah ada Cloud Sama Ari. Mereka menarik Ryan dan menyuruhnya duduk,
“Loe kenapa main oke2 aja sih Yan?” Tanya Cloud.
“Lagian si Ryan loe suruh temui Jeng Ana, doi kan latah, Jeng Ana bilang ‘Kalian keluar sekarang juga’ si Ryan juga bakal jawab yang sama. Gimana sih loe Cloud?” Ari protes, padahal Ryan sedikit lebih oke dari Ari yang gampang mules.
“Waktu kita cuma satu minggu buat dapetin uang sebanyak 2,5 juta,” jelas Ryan. Ia meraih sebuah gelas berisi orange juice.
“Kita harus kemana dong???” Ari panik.
“Dimana kita cari uang 2,5 juta???”
“Kemana, kemana, kemana. Dimana, dimana, dimana….” Ryan malah nyanyi sedikit lirik Alamat Palsu milik Ayu Ting-Ting.
“Gue serius nieh…” Cloud Dan  Ari teriak kompak banget.
Malamnya ketiga Pejantan Tanggung nongkrong di taman blok M, sebatang dua batang rokok dihisap mereka, nggak kerasa udah abis dua bungkus.
Ari, Ryan, dan Cloud merebahkan tubuh mereka di rerumputan yang udah terjamin nggak ada ( … ) milik si meong, sambil melihat bintang yang bersinar terang.
“Mba Ratih.. oh Mba Ratih…” belum tidur, Ryan udah ngigo.
Ari ikut-ikutan, “Jeng Ana.. oh Jeng Ana…”
“2,5 juta…!!! Dalam waktu satu minggu…” Cloud gak mau kalah.

AAWWAASSSS…
Teriak seorang cewek, namun malang tak dapat ditolak, ketiga Pejantan Tanggung tertiban sebuah tas,
Rupanya ada copet yang udah ngambil semua barang berharga dalam tas itu, lalu melempar tas kosong ke arah mereka bertiga. Alhasil Ari, Ryan dan Cloud dituduh sebagai pencopetnya, untung saja sang pemilik tas tau benar bahwa bukan mereka yang menjambret tas itu.
Satu masalah selesai, namun 2,5 juta belum mereka dapatkan.
“Bisakah kalian mengantar saya? Saya takut pergi sendiri.”
Ari dan kawan-kawan mengantar gadis yang bernama Nova ke rumah tantenya dikawasan Pluit. Sesampainya disana, Nova mengenalkan ketiga Pejantang Tanggung pada tantenya yang bernama Rika,
“Terima kasih ya sudah menolong Nova, oia apakah kalian bisa membantu tante?? Kebetulan teman tante mau datang dari America. Tolong kalian jemput karena tante tidak sempat.”
“Maaf tante, kenapa kami yang jemput?” Tanya Cloud.
“Emm.. karena teman tante itu bawa uang banyak sekali dari America. Dia butuh pengawal, saya liat kalian cukup pemberani ( fitnah banget ) gimana kalian bisa?”
“Bisa tante..” jawab Ryan cepat, ( latahnya kambuh )
Cloud dan Ari saling tengok.
“Nanti saya kasih upah satu juta /orang.”
Cloud yang otaknya sedikit encer Dan cepet tanggap itu langsung menghitung, “Kalo kita terima job ini, lumayan bisa bayar kontrakan sama utang ke Mba Ratih,” bisik Cloud pada Ari lalu Ryan.
DEAL…
Besok malamnya ketiga Pejantan Tanggung itu pergi ke bandara SOETTA, Temannya tante Rika bernama Ainie, orangnya banyak ngomong, kasian banget si Ryan yang latah, doi capek banget nanggapin obrolannya si tante Aini. Cloud focus bawa mobil, tapi si Tante Aini maunya serba cepet, alhasil si Cloud bawa mobil serba ngepot, sampe di klaksonin sama mobil-mobil lain, Cloud udah coba jelaskan bahwa Jakarta itu selalu rame dan macet mau pagi, siang, sore ataupun malam.
“Sudah sampe mana?? Lama banget deh sampenya,” protes tante Ainie. Karena mual, tante Ainie pun muntah, semua itu buat Ryan ikut muntah dan Ari spontan mules, Ari dan Ryan turun dari mobil, langsung kabur cari toilet.
“Terpaksa tahan napas sebisa mungkin, cLOUD mengantar tante Ainie ke rumah Tante Rika, Ari dan Ryan ditinggal ditoilet umum pinggir tol (rest area).
Paginya uang 2,5 juta udah ada ditangan Cloud. Namun kenapa ada yang kurang ya???
“Si Ari sama Ryan???”
Cloud meraih ponselnya, sudah ada dua puluh miskolan and tujuh belas SMS, kedua sahabatnya minta dijemput di rest area tol . karena uang udah ditangan, Cloud main suruh Ari and  Ryan untuk naik taxi lalu bayar dirumah.
DI RUMAH…
“Semua utang udah beres, sisa seratus lima puluh ribu. Kita bagi gocap-gocap ya..” seru Cloud, ”Oya kayaknya Tante Ainie bakal tinggal lama di Indonesia deh, dan Tante Rika minta kita buat jadi bodyguard nya. Gimana kalian mau gak???”
“Di bayar berapa juta kita sebulan???” Ari ragu.
Cloud senyam-senyum, “Enam juta, jadi masing-masing dari kita bakal dapet dua juta Bro.”
“Tapi mulut gue pegel, abisnya itu tante doyan banget ngomong,” keluh Ryan.
“Tapi hidup kita bakal sedikit lebih baik Bro, jangan kelamaan mikirnya,” rayu cloud.
Akhirnya mereka pun OKE…!!!
Jeng Ana dan Mba Ratih jadi rajin senyum, murah sapa Dan menyayangi ketiga Pejantan Tanggung itu ( Lebbaayyy )


selesai......................................................