Suasana di kantin siang itu cukup ramai, meja dan kursi sudah penuh karyawan kantor. Sendok dan garpu juga tidak kalah ramai, beradu dalam sebuah piring berukuran sedang. Namun sepertinya suara bising itu tidak terdengar di telinga Tyo Sandoro, seorang Manager disalah satu perusahaan yang letak gedungnya tidak jauh dari kantin itu.
Pria berkulit putih dan hidung yang mancung itu hanya meneguk segelas kopi hitam dan roti panggang yang belum ia sentuh. Matanya terpaku pada sebuah vas bunga cantik yang berada di sudut kantin.
Alun sahabat Tyo, datang membuyarkan lamunan Tyo siang itu, “Sorry bro, gue telat, tadi gue ada meeting dadakan di kantor.”
“Heemm, oke!! Nggak masalah, makin sibuk aja u sekarang??”
“Lagi banyak job, hahah. Oia, gimana rencana u sama Dania? Kapan kalian married…?”
“Dania…” ucap Tyo pelan.
“Iya Dania, emang u punya calon yang lain? Mafia juga u haha.”
“Dania tiba-tiba ilang, lun.”
“Maksud u??? Hahhhh kebanyakan nonton kartun u. Hahah…”
Tyo menghela nafas, sesekali melirik kesekitar kantin, “Cewek u tuh lun, kayaknya doi mau nyamperin u tuh.”
Cewek cantik bertubuh langsing dan tinggi semampai itu menghampiri Alun yang sedang asik makan roti panggang milik Tyo.
“Sayang, BBM aku nggak dibales sih???”
“Emmm, lowbatt sayang,” alun cari alasan jitu.
“Kamu udah makan siang belum? Makan sama aku yuk,” ajak Melody.
Tyo memalingkan wajahnya, ia tau Alun akan menolak ajakan Melody.
Alun mencoba cari alasan lain, “Sebenarnya aku ada perlu sama Tyo, tapi kalo kamu mau gabung makan disini, ya nggak apa-apa.”
“Oh begitu ya, aku sama ….”
“Tiara….” Sapa Gusti dengan nada menggoda, Gusti adalah mantan Tiara, dunia Emang kecil, Jadi jangan heran kalo di satu kawasan bisa punya banyak mantan.
“Sama gusti???” Tanya Alun.
“Bu.. bu.. bukan, aku makan siang sama Bela aja, ya udah bye sayang, Tyo gue pamit ya…” Melody segera meninggalkan Alun dan Tyo, Melody seperti menyimpan sebuah rahasia dari Alun.
“u cemburu sama mantannya Melody?
“Gue cemburu??? Biasa aja, oiya terus gimana tadi, menghilang kemana Dania???”
“Itu dia yang bikin gue bingung, keluarganya pindah rumah, entah kemana. Dania juga nggak ada di tempat kost nya.”
“Terakhir ketemu kapan Yo? Sebelumnya kalian ada masalah?”
Tyo menggeleng pelan, “Terakhir Dania lihat gue ngobrol sama Rassya.”
“What….? Rassya?? Cewek yang ngaku hamil sama u itu?”
“Itu cuma gossip Lun, gue nggak pernah nyentuh Rassya sedikitpun, cuma gossip itu udah sampe ke telinga Dania.”
“Appeesss…!!!” seru Alun.
“Banget…” balas Tyo pelan, sambil meneguk kopi hitamnya buat yang terakhir.
“So, apa yang mau u lakuin sekarang?”
“Gue mau sumpel mulutnya Gusti, biar nggak godain Tiara lagi, hahaha.”
“Aaahhh sial u, gue serius nih Yo,” Tyo dan Alun kembali ke kantor masing-masing, namun beban pikiran dan moril lainnya belum hilang 100% dalam hati Tyo, ia masih mempertanyakan kepergian Dania yang sangat misterius itu.
Sudah hampir satu tahun Dania pergi, Tyo belum mendapat wanita pengganti Dania dihatinya. Satu persatu teman SMP, SMA, kuliah dan teman kantor mengundangnya ke resepsi pernikahan mereka. Di sebuah pesta pernikahan Ryan, teman sekantor Tyo, Alun datang tanpa ditemani Melody.
“Sendirian aja bro?? Melody mana?” Tanya Tyo, seraya memberikan segelas minuman pada Alun.
“Melody ada acara keluarga, dia cuma kabarin itu lewat BBM. Liat Yo, tamu yang datang cantik-cantik semua. Masa sih nggak ada satupun yang bisa gantiin Dania???”
“Susah…!!!”
“Susah apanya?? Sok setia u. Hahah…”
“Maksud gue susah buat dapetin cewek-cewek cantik itu… hahah.”
“yahh ,, bisa aja u,”
“Oiya u kapan nyusul Ryan? Kasian tuh Melody udah lama minta u resmiin, hahaha.”
“u pikir dia serius sama gue?” Tanya Alun.
“Maksud U? Melody selingkuh atau cuma manfaatin u ? apa gimana nih? Gue lihat doi cinta berat sama u lun.”
“Gue nggak mau bahas itu Yo. Serius u nggak mau cari pengganti Dania? Nyesel loh,” ledek alun dengan senyumnya yang khas.
“Apa jangan-jangan u yang selingkuh duluan? Buktinya sekarang mata u jajan mulu bro…?”
“You know me, lah…??? kapan gue pernah selingkuh, jangankan selingkuh ngelirik pacar temen sendiri aja gue nggak pernah.”
“Maksud u bro…???” Tyo meraih ponselnya karena terdengar dering SMS masuk. Tyo nggak ngerti maksud dari sms tersebut dan langsung memasukkan ponselnya ke kantong jasnya.
“Lupain aja, obrolan kita udah mulai nggak asik nih,” Mata Alun mengintai beberapa tamu wanita yang cantiknya luar biasa, namun matanya terhenti pada seorang wanita berjilbab, “Shuut Yo, u liat deh cewek yang lagi ngobrol sama adiknya Ryan. Itu tuh disamping panggung MC .”
“Kenapa lagi Lun?? Masih aja jajan mata u, Melody kan almost perfect.
“Tapi dia beda Yo, nggak kalah cantik sama Melody, lebih pure.”
“Susah deh mafia…, tapi kayaknya gue kenal deh sama dia, wajahnya nggak asing banget lun, tapi gue lupa siapa namanya.”
“Samperin aja Yo, bisa lah kenalin ke gue.”
“Bisa , tenang aja, kenal aja ya nggak lebih,” Tyo dan alun menghampiri wanita berjilbab merah tersebut, namun ia segera pergi ketika melihat Tyo datang.”
“Sorry boss, cewek yang tadi ngobrol sama u itu siapa ya namanya??”
“Yang pake jilbab merah? Dia Zee, mantan abang gue, yang sekarang lagi jadi raja sehari…”
“Bisa aja u boss, oke deh thanks ya,” Tyo langsung mengejar Zee, alun mengikuti di belakang Tyo. Tyo mengejar Zee namun ia terus menghindar.
Akhirnya dapet juga, tangan Tyo berhasil meraih tangan Zee, “U temannya Dania kan?”
“Bukan…!!! Lepasin tangan gue.”
“Nggak, gue inget banget, Dania datang jenguk gue di rumah sakit sama U kan??? Sekarang U pasti tau dimana Dania.”
“Gue nggak tau, sekarang lepasin tangan gue atau gue bakal teriak,” ancam Zee. Alun nggak bisa diam aja melihat kejadian ini.
“u nggak perlu teriak atau berulah yang aneh-aneh, teman gue ini bukan maling, copet atau bahkan penjahat yang mau perkosa u, u cukup bilang dimana Dania,” Alun meradang, gelagat playboy nya tiba-tiba lepas dari dirinya,
“Lepasin tangan dia Yo.”
“Zee, U tau udah satu tahun Dania ninggalin gue tanpa sepatah kata pun, u ngerti perasaan gue gimana?”
“Gue nggak mau berurusan lagi sama u Yo, mulai sekarang dan sampai seterusnya jangan ganggu Dania lagi, paham u???”
“Nggak, gue nggak bisa diam gitu aja tanpa gue tau alasannya, please kasih tau gue, kenapa sih kayaknya u benci banget sama gue? Salah gue apa sih Zee???”
Zee menatap Tyo penuh benci, ia muak dan ingin segera pergi dari hadapan Tyo dan Alun, “Malam ini juga u ikut gue, sendiri aja nggak usah ajak teman u ini. Gue nggak suka ngeliat dia.”
Tyo pergi bersama Zee, terpaksa tanpa Alun, sahabat Tyo ini cukup mengerti, asalkan Tyo bisa mendapatkan apa yang dia mau, bertemu dengan Dania.
“Kapan terakhir U ketemu Dania???” Tanya Tyo.
“Seminggu yang lalu, jujur ya gue kecewa banget kenapa semua ini harus terjadi, nggak adil banget buat Dania,” ujar Zee, lirih.
“Nggak adil juga buat gue, dia menghilang dua bulan sebelum acara pernikahan kita, untung aja gue belum pesan gedung dan lainnya.”
Mobil Zee berhenti disebuah rumah berdesain minimalis, ia meninggalkan Tyo duduk di taman lalu kembali dengan membawa sebuah notebook mungil.
“Mana Dania???”
“Dania nggak ada disini.”
“Terus maksud u apa bawa gue kesini???”
“Sorry banget, gue nggak bisa bawa u ketemu Dania.”
“u licik Zee, apa maksud u dengan semua ini???”
“Jangan bilang gue licik, apa yang terjadi dengan hubungan kalian bukan karna gue…!!! Jaga mulut u ya.”
“Lalu…? u udah buat gue tampak bego di depan u, bilang sama gue dimana Dania?” Tyo teriak-teriak disekeliling
bahkan masuk kedalam rumah Zee. Dan kembali ke taman dengan tangan hampa.
“Percuma, Dania nggak akan hadir dihadapan u lagi, lebih baik loe liat video ini…, disini u bisa liat Dania lagi dioperasi, ia buta karena kecelakaan sepulang dari rumah u.”
“Kapan Dania kerumah gue??”
“Tepatnya saat Rassya ada dirumah u juga, Dania datang buat minta penjelasan tentang berita kehamilan Rassya, tapi Rassya udah lebih dulu ada dirumah u, bahkan saat itu dia lagi peluk u kan? Dania kecelakaan tertabrak mobil dan matanya mengalami kebutaan.
”Sampai sekarang?”
“Nggak, cuma enam bulan,” Zee menghapus air matanya.
“Jangan buang-buang waktu lagi, gue mau minta maaf sama Dania, anter gue ketemu dia please,” Tyo menangis melihat
video itu.
“Besok pagi gue baru bisa anter u, lebih baik u pulang sekarang.” Demi bertemu dengan Dania, Tyo menuruti permintaan Zee, karena saat ini hanya Zee yang tau dimana Dania. Esok paginya Zee menemani Tyo bertemu dengan keluarga Dania, ibu dan adiknya menangis menceritakan segala penderitaan yang dialami Dania, Tyo benar-benar terpukul ia merasa Ngak berguna karena nggak bisa menemani Dania melewati penderitaannya.
“Sekarang Dania udah tenang, nggak ada lagi yang ganggu dia, mencemooh, bahkan menghina dan menghalangi kebahagiaannya.”
“Maksud ibu apa? Saya nggak ngerti bu, saya boleh bertemu Dania sekarang?”
“Dania ada di taman belakang, mari ikut saya,” ajak adiknya Dania, Tyo nurut aja, Zee memeluk dan menenangkan ibu Dania.
Tyo terkejut hebat dan tersungkur lemah, ia menangis sekencang-kencangnya dihadapan papan nisan bertuliskan Dania Citra, hatinya benar-benar hancur, rasanya nggak ada matahari lagi dalam kehidupannya.
Zee mendekat ke Tyo, “Cewek yang namanya Melody udah lama ngincer u, dia nggak suka dengar kabar kalian mau menikah, Melody yang menyuruh Rassya mengaku kalo u yang hamilin dia, dengan imbalan uang. Dalam kebutaannya Dania ingin mencoba mandiri, namun lagi-lagi ia harus mengalami kecelakaan di rumahnya sendiri,”
Setelah Zee menceritakan segalanya satu minggu Tyo berduka dan nggak masuk kerja, semangatnya hilang, lenyap terbawa kerinduan dan penyesalan yang dalam untuk Dania, “Kenapa Melody tega ngelakuin semua ini, ngancurin gue, Alun dan Dania,” Tyo teriak kencang, “Melody Balikin Dania sama Gue lagi…!!!” Tyo membanting ponselnya saat membaca kembali SMS dari Melody,“Ryan udah nikah, besok kita nikah ya Yo, gue nggak bisa lama-lama menahan Perasaan ini. Gue ngga pernah cinta sama Alun.”
Malamnya sepulang kerja Alun datang menjenguk Tyo yang sedang dilemma dan galau, “Apa kabar bro? sehat??? Gue turut berduka ya, gue yakin u bisa lewatin ini semua Sob.”
“Melody mana? Sendiri aja?”
“Huufftt,, udah nggak bisa dipertahanin lagi bro,”
“Putus…???”
“Yups, dia yang minta, emang gue lagi nunggu biar dia yang putusin gue. Kapan nih masuk kerja lagi?”
“Minggu depan aja lah, itung-itung ambil cuti, jujur sama gue, kalian putus karna apa? Karena siapa?”
“Apaan sih u, emang udah nggak cocok aja bro, aneh dah pertanyaan u.”
“Bukan karena gue kan? Sorry bro, gue nggak tau sebelumnya, dan gue nggak pernah ada maksud atau niat buat rebut perhatian dari Melody.”
“Heemmm santai aja bro, nggak masalah buat gue, kecuali kalo teman gue duluan yang ngembat cewek gue. Haha,, tenang aja gue nggak apa-apa kok, cewek kaya gitu nggak mungkin gue pertahanin. Oia kemarin u belum selesai cerita bro, jadi siapa yang udah tega fitnah u sampai Dania akhirnya kecelakaan dan jadi buta and than meninggal? Biar lengkap aja cerita sedih tentang u and Dania.”
“Gue nggak pernah nyangka Melody tega Ngelakuin itu semua…”
“What…??? Jadi…, oh God. Melody yang fitnah u bro…???”Wah ...Gilaa..Gila...
“Melody emang sering banget SMS or BBM gue, tapi nggak gue gubris sama sekali, gue tau Melody cewek u lun.”
Damn…!!! Alun ikut terpukul dan mereka saling minta maaf, baik Alun dan Tyo nggak ada yang menyangka dengan kejahatan Melody.
Esok paginya Alun datang menemui Melody, sikap Melody yamg udah dingin terhadap Alun, “Aku baru tau, selama ini kamu selingkuhin hati kamu ke sahabat aku sendiri dan kamu tega udah fitnah Tyo sampai Dania Ninggalin Tyo untuk selama-lamanya.”
“Sebaiknya kamu pergi dari sini, karena apa yang kamu bilang tadi nggak akan membuat Tyo menerima cinta aku kan???”
“Tapi kamu…”
“Dania meninggal karena kecelakaan, bukan karena aku. Jangan pernah temui aku lagi, aku muak dengan semua ini,” Melody mengusir Alun, tanpa meminta maaf sedikitpun atas apa yang udah dia perbuat. Sekarang Alun benar-benar membenci Melody.
*SELESAI *